Tuesday, May 11, 2021

Asesmen dan Planning Matrix

 


ASESMEN DAN PLANNING MATRIX

A. ASESMEN

1. Pengertian

Beberapa ahli mengemukakan pengertian asesmen seperti berikut ini: Lerner

(Mulyono, 2001) mengemukakan bahwa assesmen adalah suatu proses pengumpulan

informasi selengkap-lengkapnya mengenai individu yang akan digunakan untuk

membuat pertimbangan dan keputusan yang berhubungan dengan individu tersebut.

Selanjutnya Aianscow (Munawir Yusuf , 2007) menjelaskan bahwa assesmen dilakukan

berkenaan dengan pemberian informasi kepada sejawat (teman guru), pencatatan

pekerjaan yang telah dilakukan oleh anak didik, pemberian bantuan pada guru untuk

merencanakan pembelajaran pada anak, pengenalan terhadap kekuatan dan

kekurangan pada anak dan pemberian informasi kepada pihak-pihak terkait (seperti

orang tua, psikolog, dan para ahli lain) yang membutuhkan informasi tersebut.

Sementara itu secara khusus. Sementara itu secara khusus Mcloughlin dan lewis

(Sunardi dan Sunaryo, 2007) menjelaskan bahwa asesmen pendidikan anak berkelainan

adalah proses pengumpulan informasi yang relevan dengan kepentingan anak, yang

dilakukan secara sistematis dalam rangka pembuatan keputusan pengajaran atau

layanan khusus.

Dengan demikian dapat dimaknai bahwa asesmen anak berkebutuhan khusus

adalah suatu proses pengumpulan informasi tentang anak secara menyeluruh yang

berkenaan dengan kondisi dan karakteristik kelainan, kelebihan dan kekurangan sebagai

dasar dalam penyusunan program pembelajaran dan program kebutuhan khusus yang

sesuai dengan kondisi dan kebutuhan anak.

Identifikasi dan asesmen merupakan tahapan atau rangkaian kegiatan dari suatu

proses pelayanan pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Identifikasi sering

disebut sebagai kegiatan penjaringan, sedangkan asesmen disebut penyaringan

(Direktorat PSLB, 2007). Kegiatan penjaringan biasanya belum tentu dilanjutkan ke

kegiatan penyaringan. Sementara itu, kegiatan penyaringan sudah tentu dilakukan

karena adanya kegiatan penjaringan. Dalam pelaksanaannya, kegiatan identifikasi dapat

dilakukan oleh guru dan pihak lain yang dekat dengan anak, seperti orang tua dan

keluarganya, sedangkan asesmen biasanya perlu melibatkan tenaga profesional yang

ahli dalam bidangnya, seperti psikolog, sosiolog dan terapist.

2. Jenis asesmen dalam pendidikan khusus

a) Asesmen akademik

Asesmen akademik adalah suatu proses untuk mengetahui kondisi/kemampuan

peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK) dalam bidang akademik. Bagi PDBK pada

jenjang preeschool, kemampuan akademik yang perlu digali terkait dengan

kemampuan membaca, menulis dan berhitung. Sedangkan bagi PDBK pada jenjang

pendidikan dasar dan selanjutnya, kemampuan akademik yang perlu digali adalah

terkait dengan semua bidang studi/mata pelajaran yang diajarkan pada sekolah

tersebut.

b) Asesmen non-akademik (kekhususan)

Asesmen kekhususan dalam pendidikan khusus adalah suatu proses untuk mengetahui

kondisi PDBK yang berkaitan dengan jenis hambatan yang disandangnya secara

mendalam komprehensif dan akurat. (Akan dipelajari dalam materi ke 5 pada

pertemuan ke 6 tentang pengenalan program kebutuhan khusus).

c) Asesmen perkembangan

Asesmen non akademik/perkembangan ini adalah suatu proses untuk mengatahui

kondisi perkembangan PDBK yang terkait dengan kemampuan intelektual, emosi,

perilaku, komunikasi yang sangat bermanfaat dalam mempertimbangkan penggunaan

metode, strategi maupun pemilihan alat bantu yang tepat baik dalam penyusunan

perencanaan pembelajaran (akademik) maupun dalam penyusunan program

kebutuhan khusus.

3. Tujuan dan fungsi

Tujuan utama kegiatan asesmen adalah memperoleh informasi tentang kondisi anak, baik

yang berkaitan dengan kemapuan akademik, non akademik dan kekhususan secara

lengkap, akurat dan obyektif.

Sedangkan fungsi asesmen dalam kontek ini adalah untuk membantu guru dan terapis

dalam menyusun perencanaan pembelajaran dan program layanan kebutuhan khusus yang

tepat. Dalam hal ini hasil asesmen dapat difungsikan sebagai kondisi kemampuan awal

(baseline) anak sebelum diberikan layanan baik akademik maupun program kebutuhan

khusus.

4. Sasaran

Sejalan dengan tujuan dan fungsi asesmen seperti diuraikan di atas, maka sasaran asesmen

adalah semua peserta didik yang pada fase identifikasi telah ditetapkan sebagai peserta

didik berkebutuhan khusus.

5. Strategi

a) Menetapkan jenis asesmen yang akan dilakukan (akademik, non-akademik/kekhususan

atau perkembangan)

b) Memilih/mengembangkan instrumen asesmen yang tepat

c) Melakukan asesmen sesuai dengan panduan yang dipersyaratkan.

d) Melakukan tabulasi, klasifikasi dan analisis hasil asesmen.

e) Melakukan case conference terhadap temuan dan hasil analisis tersebut, untuk

menentukan baseline dan penetapan perencanaan pembelajaran/ program

pengembangan/interfensi yang akan dilakukan.

f) Mendokumentasikan semua data hasil asesmen dan kesepakatan hasil case

conference .

B. PLANNING MATRIX

1. Pengertian

Program layanan kebutuhan khusus didasarkan pada simpulan hasil asesmen secara

langsung. Hal ini tidak salah namun materi yang dipergunakan sebagai dasar

penyusunan program masih berupa potongan-potongan simpulan atas hasil asesmen

yang telah dilakukan. Quentin Iskov, Project Officer: Disabilities Department of

Education and Children’s Services (2012) menambahkan satu tahapan lagi sebelum

menyusun program intervensi, yaitu penyusunan planning matrix. Planning matrix

adalah mapping diskripsi tentang kondisi ABK secara individu yang menggambarkan

tentang kondisi actual hambatan karakteristiknya, dampak, strategi layanan dan media

yang diperlukan dalam intervensi. Deskripsi mapping karakteristik kebutuhan khusus

tersebut selanjutnya disusun skala prioritas yang menggambarkan urutan urgensi

masalah yang perlu segera ditangani. Oleh sebab itu dengan adanya planning matrix ini,

guru pendidikan khusus menjadi sangat terbantu, karena untuk menetapkan program

layanan kebutuhan khusus, tinggal menyusun program layanan kebutuhan khusus

tersebut sesuai dengan skala prioritas yang telah diperoleh. Pada awalnya planning

matrix ini dibuat untuk anak autis spectrum disorder, namun dalam perkembangannya,

ABK dengan hambatan lainnya juga menjadi sangat terbantu dengan plaanning matrix

ini. Jenis hambatan/kelainan pada ABK yang selanjutnya dapat dirumuskan.

2. Tujuan

a) Memetakan kondisi aktual akademik maupun kekhususan ABK

berdasarkan hasil asesmen yang telah dilakukan

b) Menganalisis dampak dari masing-masing aspek kondisi aktual ABK baik

akademik maupun kekhususannya.

c) Menganalisis strategi layanan yang tepat pada ABK sesuai dengan kondisi

dan kebutuhan khusus ABK baik akademik maupun kekhususannya.

3. Fungsi

a) Memudahkan guru/terapis dalam menetapkan kondisi awal aktual

(baseline) ABK baik aspek akademik maupun kekhususan.

b) Membantu guru/terapis dalam mempuan mapping kondisi ABK secara

komprehensif.

c) Memudahkan guru/terapis dalam menetapkan skala prioritas layanan

kekhususan yang harus segera dilakukan.

4. Prosedur pengembangan planning matrix

a) Mengkategorikan data hasil asesmen berdasarkan jenis hambatan/

kelaianan ABK.

b) Membuat tabel mapping ABK berdasarkan jenis hambatan/kelainannya

sesuai dengan temuan asesmen.

c) Menuangkan temuan kondisi aktual karakteristik ABK pada tabel mapping

yang telah dibuat.

d) Menganalisis dampak temuan kondisi aktual ABK dan dituang pada tabel

yang telah dibuat.

e) Menganalisis strategi layanan pada setiap temuan kondisi aktual ABK dan

dituangkan pada tabel yang telah dibuat.

f) Menganalisis skala prioritas layanan berdasarkan berat ringannnya

dampak yang telah dituangkan pada tabel tersebut.

sumber: gurubelajar.kemdikbud.co.id


EmoticonEmoticon